• Selamat Datang di Web Profile Dewan Kemakmuran Masjid At-Taqwa Komp. Pharmindo
Minggu, 19 Mei 2024

Ust. Dr. Dede Rodin : Muhasabah

Ust. Dr. Dede Rodin : Muhasabah
Bagikan

Kata Muhasabah diambil dari Bahasa Arab yaitu al-muhasabah yang berasal dari kata hasaba – yuhasibu – hisaban – muhasabah. Hasaba memiliki arti menghitung, mengevaluasi dan mengintropeksi diri. Di dalam Surah al-Hasyr ayat 18 merupakan salah satu ayat dalam A-Qur’an yang berisi perintah untuk melakukan muhasabah. Allah SWT. berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 sebagai berikut :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“ (QS. al-Hasyr [59]:18)

Jika kita baca ayat tersebut, salah satu indikator atau ukuran takwa adalah muhasabah. Oleh karena itu, seorang ulama besar yang bernama Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah mengatakan bahwa “Ayat ini menunjukkan wajibnya melakukan muhasabah diri. Allah berfirman, “Hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang sudah diperbuatnya untuk hari kiamat; apakah amal saleh yang akan menyelamatkannya, ataukah amal jelek yang mencelakannya?“ (Ibnu Qoyyim, Igatsah al-Lahfan:1/152).

Selain itu, di dalam Surah al-Furqan ayat 62 Allah SWT. berfirman :

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا

Artinya : “Dia menjadikan malam dan siang silih berganti (untuk memberi kesempatan) bagi siapa yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau yang ingin bersyukur.” (QS. al-Furqan [25]:62)

Di dalam ayat tersebut Allah SWT mengingatkan bahwa ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam pergantian hari, bulan ataupun tahun. Kedua hal tersebut yaitu yang pertama adalah kesempatan bagi kita untuk melakukan proses tadzakkur atau mengingat yang berkaitan dengan masa lalu atau masa lampau untuk diambil pelajaran dari masa lalu tersebut dan yang kedua yaitu proses tasyakur yang memiliki arti menuntut kita untuk menggunakan semua potensi dan anugrah yang Allah berikan untuk di tempatkan pada tempat yang benar. Jika dihubungkan dengan situasi dan kondisi sekarang, maka tasyakur dapat disebut sebagai resolusi.

Imam Ali membagi waktu menjadi tiga, yaitu:

  1. Waktu yang lalu atau sudah terlewat dan tidak usah disesali. Jadikan pelajaran, karena tidak mungkin kita kembali ke belakang.
  2. Waktu saat ini. Waktu yang sedang kita jalani sekarang adalah yang terpenting, maka dari itu gunakan waktu tersebut sebaik-baiknya.
  3. Waktu yang akan datang. Tidak usah risau dengan waktu yang akan datang, karena waktu yang akan datang tersebut belum tentu milik kita.

Dari pembagian waktu tersebut, maka yang harus kita lakukan yaitu hanya fokus pada waktu saat ini yang sedang kita jalani. Tetapi tidak lupa untuk mengambil pelajaran dari waktu yang lalu atau sudah terlewat.

Dalam sebuah riwayat dari Syaddad bin Aus bahwa Nabi SAW. bersabda:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya : “Orang yang bijak adalah yang mampu mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang menundukkan jiwanya kepada hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Di dalam hadis tersebut Nabi Muhammad SAW. menyebutkan ciri-ciri orang yang bijak yaitu orang yang selalu melakukan muhasabah atau mengevaluasi diri. Umar bin al-Khattab berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Artinya : “Hisab diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal saleh) untuk pagelaran agung (hari kiamat). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan ringan bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.” (HR. At-Tirmidzi)

Nabi Muhammad SAW. berwasiat kepada Abu Dzar, sebagai berikut :

“Wahai Abu Dzar, hisablah dirimu sebelum dihisab, karena itu akan meringankan hisabmu nanti. Timbang dirimu sebelum ditimbang, bersiaplah untuk pagelaran agung, pada hari ketika tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sedikit pun. Wahai Abu Dzar, seseorang tidak tergolong muttaqin sampai dia menghisab dirinya lebih keras dari pada seorang teman menghisab temannya.”

Dari pembahasan muhasabah ini, maka akan muncul pertanyaan “apa yang harus di muhasabah?” Terdapat banyak aspek yang harus di muhasabah atau di evaluasi. Menurut Imam al-Ghazali yaitu:

  1. kewajiban-kewajiban
  2. Larangan-larangan
  3. Umur

Dalam pembahasan muhasabah kali ini, akan fokus membahas tentang muhasabah pada aspek ketiga yaitu umur. Mengapa kita penting melakukan muhasabah usia? Hal tersebut dikarenakan oleh usia atau umur merupakan salah satu aspek yang akan dipertanyakan. Salah satu hadis populer menyatakan bahwa :

Dari Barzakh al-Aslami bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seseorang pada hari kiamat sehingga dia ditanya mengenai usianya untuk apa dihabiskannya, ilmunya bagaimana diamalkannya, hartanya darimana memperolehnya dan digunakan untuk apa, serta fisiknya untuk apa digunakan.” (HR. At-Tirmidzi)

Ada beberapa orang atau pendapat yang membagi usia manusia menjadi 2 jenis, yaitu :

  1. Usia biologis

Usia biologis yaitu jatah usia yang diberikan oleh Allah SWT secara kuantitatif pada angka di dunia. Seseorang tidak mungkin mengetahui berapa usia bilogis dirinya, kecuali seseorang itu sudah meninggal. Usia biologis tidak bisa direkayasa sedemikian rupa. Di dalam Al-Qur’an Surah An’am ayat 2 yang berbunyi :

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضٰٓى اَجَلًا ۗوَاَجَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهٗ ثُمَّ اَنْتُمْ تَمْتَرُوْنَ

Artinya : “Dialah (Allah) Yang telah menciptakan kalian dari tanah kemudian Dia menentukan ajal (kematian), dan ada ajal yang ditentukan di sisi-Nya (kebangkitan), kemudian kalian masih ragu (tentang kebangkitan itu).” (QS. An’am [6]:2)

Selain itu, di dalam Surah an-Nahl ayat 70 yang berbunyi :

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفّٰىكُمْ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ ࣖ

Artinya : “Dan Allah telah menciptakanmu kemudian akan mewafatkanmu, dan diantara kalian ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun) sehingga dia tidak mengetahui sesuatu yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nahl [16]:70)

Selanjutnya terdapat juga dalam Surah Fathir ayat 11 yang berbunyi :

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ اَزْوَاجًاۗ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ اُنْثٰى وَلَا تَضَعُ اِلَّا بِعِلْمِهٖۗ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُّعَمَّرٍ وَّلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهٖٓ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Artinya : “Dan Allah telah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kalian berpasangan. Dan tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan tidak (pula) yang melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Fathir [35]:11)

Ada orang yang berpendapat bahwa usia itu bisa diperpanjang dengan mengerjakan amal shaleh seperti salah satunya yaitu melakukan silaturahim seperti pada hadis. Ada juga orang yang berpendapat bahwa bukan usia nya yang diperpanjang, melainkan makna hidupnya.

Di dalam Surah al-Anbiya ayat 44 seperti berikut :

بَلْ مَتَّعْنَا هٰٓؤُلَاۤءِ وَاٰبَاۤءَهُمْ حَتّٰى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُۗ اَفَلَا يَرَوْنَ اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ اَفَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ

Artinya : “Sebenarnya Kami telah memberi merka dan orang tua mereka kenikmatan (di dunia) sehingga panjang usia mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasannya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang beruntung?” (QS. al-Anbiya [21]:44)

  1. Usia historis

Usia historis atau disebut juga dengan usia sejarah. Seperti contoh Jenderal Sudirman. Usia biologis Jenderal Sudirman yaitu 34 tahun. Sedangkan usia historis atau usia sejarah Jenderal Sudirman yaitu sampai sekarang masih dikenang dan dikenal. Usia historis atau usia sejarah ini bisa kita rekayasa.

SebelumnyaAa Gym: Banyak Harta Harus Rajin Berwakaf
Tahun Berdiri1991